3 Filosofi Cappuccino yang Menggugah Selera Para Pecinta Kopi

Cappuccino tidak hanya nikmat bila diminum ketika masih hangat. Ia dapat dijadikan teman nongkrong ataupun teman disaat mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk semalam suntuk. Aromanya yang khas, cita rasa yang mampu mendongkarak semangat namun tak terlalu kuat membuat cappuccino mampu menarik animo para pecinta kopi yang masih muda.

Dibalik sensasi kenikmatannya, ia juga menyimpan filosofi yang dapat diterapkan di dunia kerja. Ini bukan tentang kandungan gizi ataupun yang lainya semisal yang biasa dibahas oleh para barista. Untuk kamu yang sudah penasaran dengan filosofi cappucino, silahkan menyimak artikel berikut ya.

1. Proporsional

Filosofi Cappucino

Filosofi Cappucino via kingofwallpapers.com

Cappuccino biasanya terdiri atas 30% espresso, 30% susu yang dipanaskan serta 30% susu yang dikocok hingga berbusa. Di beberapa coffe shop, ada juga yang mengkomposisikan 35% espresso dan 65% mikrofoam. Cappuccino agak berbeda dengan latte macchiato, yang kebanyakan terdiri atas susu dan sedikit busa. Kesimpulannya, dalam menyajikan segelas filosofi cappuccino haruslah proporsional.

Begitu pula dengan dunia kerja. Anda harus menerapkan prinsip yang proporsional untuk menghindari tindakan yang berlebihan. Misalnya, terkadang anda juga harus menjaga jarak dengan pimpinan walaupun bos Anda itu adalah teman dekat ataupun mungkin juga saudara.

Menjaga jarak disini adalah dapat menempatkan diri pada hubungan profesional yang bersifat diluar hubungan pribadi. Ini dilakukan guna menghindari penilaian negatif atau bahkan kecemburuan sosial dari rekan kerja lainya yang tidak memiliki kedekatan dengan Anda. Tidak hanya urusan dengan bos saja. Dalam hal apa pun, tindakan proporsional di dalam dunia kerja harus pula diperhatikan.

2. Menjaga Temperatur

Filosofi Cappucino

Filosofi Cappucino via hipnewjersey.com

Selain membutuhkan espresso yang baik, unsur terpenting dalam membuat secangkir filosofi cappuccino adalah temperatur susu yang dipakai. Seorang barista yang sudah terlatih, akan tau betul prosedur saat memanaskan susu untuk cappuccino. Sehingga cappuccino terasa lebih nikmat.

Tempratur dalam dunia kerja merupakan suasana kerja. Anda tentunya pernah mendengar suara celetukan yang mengatakan, “Suasananya sudah mulai memanas!” Suasana dalam dunia kerja bisa dibagi menjadi dua, yakni suasana panas dan suasana dingin.

Jika suasana kerja sudah mulai memanas, Anda dapat menjadi bagian yang dapat mendinginkan suasana. Jika hubungan antar individu terlalu dingin, Anda bisa berbuat sesuatu agar hubungan mereka kembali hangat.

Kalaupun bukan menjadi pengatur dari suasana hati orang lain di kantor, setidaknya Anda bukanlah penyebab dari panas atau dinginya suasana yang terjadi di kantor. Maka dari itu, jagalah temperatur hati Anda dimanapun.

3. Tempatkan pada tempatnya

Filosofi Cappucino

Filosofi Cappucino via wikimedia.org

Idealnya, filosofi cappuccino dibuat di sebuah cangkir kopi berbahan keramik yang memiliki daya simpan panas yang jauh lebih baik. Walaupun sekarang ini banyak cappuccino yang ditempatkan di gelas kertas atau gelas plastik. Namun umumnya pecinta cappuccino lebih memilih gelas keramik saat sedang ngopi.

Tempatkanlah sesuatu itu pada tempatnya. Ini akan berdampak baik pada apa pun yang ditempatkan ke dalamnya. Saat Anda sedang bekerja, sesuaikan diri Anda dengan situasi serta dengan siapa Anda sedang berinteraksi. Atau dalam bahasa lainnya, anda harus berpandai-pandai menempatkan diri. Terutama saat berkomunikasi dengan rekan kerja atau bahkan dewan direksi.

Secangkir filosofi cappuccino memang nikmat. Setelah ini, kami yakin bahwa kenikmatan tadi akan makin bertambah setelah anda mengetahui filosofi yang terdapat di dalamnya.

Oke gaes, itulah tadi artikel singkat kami tentang filosofi cappucino. Semoga anda mengambil inspirasi dari Cappucino seperti apa yang telah kami postingkan ya. See you next post!

No related post!

Leave a reply

15 − 12 =